PALANGKA RAYA, Suarakalteng.com – Upaya mengantisipasi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah diperkuat melalui pemantauan atmosfer dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan bersamaan dengan pemadaman darat dan patroli untuk menekan risiko kebakaran di sejumlah wilayah.
Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah bersama satuan tugas gabungan mencatat penanganan karhutla seluas 37,94 hektare dalam periode 24 jam terakhir berdasarkan laporan Selasa (27/10/2026).
Salah satu upaya mitigasi yang kembali dilakukan adalah OMC melalui koordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta TNI Angkatan Udara.
Dalam pelaksanaan sortie pertama, pesawat Casa 212-200/A-2105 menyemai 800 kilogram natrium klorida (NaCl) pada ketinggian 10.000 kaki. Penyemaian diarahkan ke wilayah Kabupaten Pulang Pisau bagian selatan dan Kabupaten Katingan bagian selatan.
Operasi tersebut bertujuan mendukung potensi pembentukan hujan di wilayah sasaran. Pelaksanaannya menyesuaikan analisis atmosfer dan perkembangan kondisi meteorologis.
Berdasarkan analisis BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Palangka Raya, kondisi atmosfer di Kalimantan Tengah saat itu mendukung pembentukan awan hujan. Sejumlah faktor yang memengaruhi antara lain aktivitas gelombang atmosfer, belokan angin, serta pertemuan angin di beberapa wilayah.
BMKG juga memperkirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, dan Katingan. Hujan tersebut berpotensi disertai petir dan angin kencang.
Informasi cuaca menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya mitigasi bencana. Namun, pelaksanaan modifikasi cuaca tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan hasil analisis teknis, sehingga tidak dapat dipastikan menghasilkan hujan di seluruh wilayah sasaran.
Di samping OMC, pemadaman, pendinginan, dan patroli terus dilakukan untuk mencegah api menyebar serta mengurangi kemungkinan munculnya kembali titik api.
Sebanyak 16.478 personel gabungan dilibatkan dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Unsur yang terlibat meliputi BPBD, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, TNI-Polri, Satbrimob, Masyarakat Peduli Api (MPA), Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK), Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), relawan, pemerintah daerah, dan perusahaan setempat.
Kolaborasi tersebut mendukung penanganan di lapangan sekaligus memperkuat pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.
Masyarakat juga diharapkan berperan dalam pencegahan dengan tidak membakar lahan untuk membuka kebun serta segera melaporkan kemunculan titik api kepada petugas. Langkah pencegahan sejak dini diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran meluas dan dampaknya terhadap kesehatan maupun lingkungan.
Sumber informasi: Multimedia Center Provinsi Kalimantan Tengah.










