PJJ di Tengah Kabut Asap, Disdik Kalteng Minta Sekolah Jaga Keselamatan dan Cegah Learning Loss

Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo saat berdiskusi bersama guru dan jajaran MKKS Buntok terkait pelaksanaan pembelajaran di tengah kondisi kabut asap dan ancaman karhutla.
banner 468x60

BUNTOK, Suarakalteng.com – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi tantangan bagi dunia pendidikan Kalimantan Tengah. Sekolah dituntut tetap memastikan siswa mendapatkan pembelajaran tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo meminta satuan pendidikan tidak memaksakan siswa datang ke sekolah ketika kondisi lingkungan dan kualitas udara berisiko bagi kesehatan maupun keselamatan mereka.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Saya dilema, jangan paksakan murid turun ke sekolah, karena risikonya banyak sekali. Misalnya terjadi hal yang tidak diinginkan saat perjalanan menuju sekolah atau sebaliknya. Belum lagi di jalan kena asap, takutnya hal itu justru membahayakan murid-murid kita,” ujar Reza saat bertemu MKKS Buntok, usai mengikuti agenda pembagian bantuan pangan kepada masyarakat di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Senin (21/9/2026).

Namun, kebijakan PJJ juga memiliki tantangan lain. Reza mengingatkan sekolah agar tidak membiarkan pembelajaran jarak jauh berlangsung tanpa strategi, karena keterbatasan akses internet dan kondisi geografis dapat membuat sebagian siswa tertinggal dalam mengikuti pelajaran.

“Kalau lama PJJ seperti ini kita khawatir juga dengan lost learning. Seperti yang pernah saya kunjungi di Kelas Digital Huma Betang, kelas itu harusnya 36 murid, tapi yang hadir cuma 6 orang. Yang lainnya tidak hadir karena kendala sinyal di daerah mereka, akhirnya kasihan yang 30 murid lainnya tidak bisa belajar, ketinggalan pelajaran,” jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan PJJ di Kalteng memiliki tantangan yang berbeda-beda di setiap wilayah. Karena itu, sekolah perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi peserta didik, termasuk mempertimbangkan keterbatasan jaringan komunikasi di sejumlah daerah.

Menurut Reza, keberlanjutan proses belajar perlu tetap diperhatikan karena pembelajaran yang tidak optimal dalam waktu panjang dapat memengaruhi capaian akademik siswa, termasuk kemampuan literasi dan numerasi.

Di tengah pelaksanaan PJJ, sekolah juga diminta tidak menghentikan aktivitas pemeliharaan lingkungan. Reza justru mendorong satuan pendidikan memanfaatkan waktu tersebut untuk memastikan lingkungan sekolah lebih aman dari potensi kebakaran.

“Saat PJJ seperti ini, tolong semak belukar di sekitar sekolah dibersihkan. Kalau sekolah ada semak belukar, pepohonan yang kekeringan, tanahnya kering, itu rawan sekali terbakar atau api merembet ke daerah itu sehingga menjalar ke sekolah,” tegasnya.

Pembersihan lingkungan sekolah dinilai penting sebagai bagian dari langkah antisipasi, terutama ketika kondisi lahan sedang kering dan ancaman karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalteng.

Reza menegaskan, PJJ dalam situasi darurat bukan berarti aktivitas pendidikan berhenti. Sekolah tetap perlu memastikan siswa memperoleh materi pembelajaran, sekaligus menjaga lingkungan satuan pendidikan dan keselamatan seluruh warga sekolah.

Dengan pendekatan tersebut, sekolah diharapkan dapat menjalankan dua agenda secara bersamaan, yakni melindungi siswa dari risiko kabut asap dan karhutla serta menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan dan siswa tidak tertinggal.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *