Kabut Asap Ganggu Pembelajaran, 135 Sekolah di Kalteng Beralih ke BDR

Aktivitas pembelajaran melalui sistem digital di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla yang berdampak terhadap sejumlah satuan pendidikan di Kalimantan Tengah.
banner 468x60

PALANGKA RAYA, Suarakalteng.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan di Kalimantan Tengah. Sebanyak 135 satuan pendidikan memilih mengalihkan pembelajaran menjadi Belajar Dari Rumah (BDR) secara daring untuk menyesuaikan kondisi udara.

Berdasarkan pemantauan Posko Darurat Karhutla melalui Kelas Digital Huma Betang pada Selasa (22/9/2026) pukul 12.35 WIB, rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kalteng tercatat mencapai 563 dan masuk kategori Berbahaya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Data tersebut berasal dari pemantauan terhadap 424 satuan pendidikan yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah.

Dari jumlah tersebut, 135 satuan pendidikan atau sekitar 32 persen telah menerapkan BDR daring penuh. Sementara itu, sembilan satuan pendidikan masih melaksanakan pembelajaran tatap muka normal dan sejumlah sekolah lainnya menerapkan pembelajaran terbatas dengan menyesuaikan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

Untuk mendukung pembelajaran selama kondisi darurat, tercatat 273 kelas virtual live yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran daring.

Kondisi kualitas udara juga menunjukkan perbedaan antarwilayah. Sejumlah daerah tercatat memiliki konsentrasi partikulat yang tinggi, antara lain Gunung Mas dengan 2.373 PM10, Kotawaringin Timur 1.197 PM10, Barito Selatan 771 PM10, Murung Raya 586 PM10 dan Palangka Raya 581 PM10.

Sementara itu, Katingan tercatat 468 PM2.5, Barito Utara 429 PM2.5 dan Barito Timur 366 PM2.5. Wilayah lainnya seperti Lamandau, Sukamara, Kotawaringin Barat, Pulang Pisau, Kapuas dan Seruyan juga terpantau memiliki angka partikulat yang cukup tinggi.

Sistem pemantauan pendidikan tersebut secara otomatis memberikan rekomendasi pola pembelajaran berdasarkan kondisi udara di masing-masing wilayah. Skemanya dapat berupa PJJ atau BDR daring penuh hingga pembelajaran tatap muka terbatas dengan penggunaan masker.

Dampak terhadap kesehatan siswa juga menjadi perhatian. Hingga pembaruan data pukul 12.35 WIB, tercatat 339 murid terdampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atau gangguan pernapasan berdasarkan pemantauan UKS maupun fasilitas kesehatan.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo menegaskan, perubahan pola pembelajaran akibat kondisi karhutla bukan berarti kegiatan belajar dihentikan.

“PJJ bukan berarti anak-anak libur. Pembelajaran tetap berjalan dan dikontrol melalui Kelas Digital Huma Betang,” ujar Reza.

Menurutnya, keberadaan Kelas Digital Huma Betang membantu pemerintah memantau kondisi pendidikan secara lebih cepat. Melalui sistem tersebut, informasi mengenai kualitas udara, status pembelajaran, aktivitas kelas virtual hingga dampak kesehatan siswa dapat menjadi bahan dalam menentukan pola pembelajaran.

Dengan sistem tersebut, sekolah diharapkan dapat mengambil langkah yang menyesuaikan kondisi daerah masing-masing, sehingga keselamatan siswa tetap diperhatikan tanpa menghentikan hak mereka untuk memperoleh pembelajaran.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *