Nilai-nilai Spiritual Yang Patut Diperhatiakan Untuk IKN di Penajaman, Kalimantan Timur

Nilai-nilai Spiritual Yang Patut Diperhatiakan Untuk IKN di Penajaman, Kalimantan Timur

Makna simbolisnya Radya Laksana bisa diurai dalam nilai-nilai historis asal-usul raja, mulai dari Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I. Dalam sejarah raja merupakan silsilah yang tercermin dalam lingkaran bulat telur. Gambar paku dan bumi menunjukkan nama Paku Buwana, yaitu Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono yang selanjutnya terus dipakai sebagai nama raja yang memerintah di

Makna simbolisnya Radya Laksana bisa diurai dalam nilai-nilai historis asal-usul raja, mulai dari Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I. Dalam sejarah raja merupakan silsilah yang tercermin dalam lingkaran bulat telur. Gambar paku dan bumi menunjukkan nama Paku Buwana, yaitu Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono yang selanjutnya terus dipakai sebagai nama raja yang memerintah di Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sedangkan gambar surya atau matahari, mengisyaratkan nama R.M.G. Surya atau Sunan Hamengkurat Jawa. Dan gambar candra atau sasangka atau simbolik dari bulan mengisyaratkan nama R.M.G. Sasangka yang bernama Panembahan Purbaya. Adapun makna dari kartika atau sudama atau bintang itu mengisyaratkan nama R.M.G. Sudama yang juga bernama Pangeran Blitar.

Dalam buku Pergolakan Raja Mataram yang disususn A.M Hadisiswaya Pergolakan Raja Mataram, menguraikan hubungan ketiga tokoh yang perlambangnya termuat dalam Radya Laksana tersebut dengan Sunan Pakubuwono X sebagai penciptanya. Ketiga putra Pakubuwono I — selaku pendiri Kraton Kartasura — adalah leluhur yang sama bagi Pakubuwono X dan permaisurinya. Sejarah mencatat permaisurinya adalah putri K.G.P.A.A. Mangkunagara IV yang bergelar Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwana dan putri Sri Sultan Hamengku Buwono VII bergelar Gusti Kanjeng Ratu Emas, seperti yang kemudian dikenakan oleh Permaisuri Sultan Hamengku Buwono X.

Secara filosofis, makna lambing yang merupakan tuntunan hidup berbangsa dan bernegara tercermin dalam setiap bentuk benda yang tergambar pada lambang tersebut. Untuk hal yang sama, sejarawan Purwadi dan arkeolog Djoko Dwiyanto menuliskan dalam buku mereka bahwa Makutha atau mahkota merupakan simbol raja dan sebagai simbol dari kebudayaan Jawa. Essensinya, budaya Jawa patut menjadi tuntunan– sebagai uwoh pangolahing budi secara lahir dan batin — berdasarkan budi luhur dan keutamaan. Pakarti lahir harus seiring dengan pakarti batin hingga mencerminkan sifat harmonis sebagaimana yang diinginkan oleh budaya Jawa.

Menurut hasil kajianwama merah dan kuning pada mahkota dalam budaya Jawa merupakan simbol kasepuhan (yang dianggap tua). Sifat kasepuhan ini terlihat dalam bentuk lahir dan batin yang mencerminkan sikap sabar, tidak terburu nafsu dan seterusnya ningga membersitkan makna filosofis bagi seseorang raja yang harus memiliki jiwa kasepuhan. DEmikian pula dengan warna biru muda yang menjadi warna dasar bentuk oval pada lambang tersebut sebagai perpaduan antara warna biru dan putih. Warna biru dan putih perlambang dari watak yang menolak perbuatan yang tidak baik. Sedangkan warma biru muda merupakan simbol angkasa atau langit yang mencerminkan watak yang harus memiliki wawasan yang luas serta pemberi maaf.
Simbolika dari surya atau matahari menggambarkan sumber kekuatan dan sumber penerang bagi kehidupan untuk menerangi dunia dengan tegak dan tegar memberi penerang bagi kehidupan. Pada intinya simbolika ini merupakan gambaran dari sosok seorang yang berjiwa besar dalam budaya Jawa, sehingga mampu memberi kekuatan dan dapat memancarkan sinar kehidupan dengan tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun, sebagai ekspresi dari pelayanan terhadap rakat.

Masalahnya dalam konteks kekinian hari ini di Indonesia – yang berasal muasal dari kesepakatan sejumlah Kerajaan di Nusantara –masihkan manna dan hakikat dari perlambang yang sangat mulia itu masih tercermin dalam praktek pelaksanaan pemerintahan modern yang Bernama Republik Indonesia yang sudah resmi dimerdekakan nyaris seabad silam itu ?

Padahal dari posisi suku bangsa Nusantara yang bersepakat membentuk Negara Kesatian Republik Indonesia (NKRI) kini menuju “Negara Nusantara” yang dapat diartikan secara bebas dari pemaknaan IKN yang telah dipastikan untuk Pindak dari Jakarta ke Penajam, Kalimantan Timur, tampak dalam pandangan yang agak tersamar adanya keingan untuk mengulang Kembali masa kejayaan bangsa Nusantara yang sudah berproses menyatu dalam negara kesatuan yang berbentuk republic untuk menggamit kejayaan masa silam yang bisa disebut amat sangat gemilang Ketika itu.

Kitab Negarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca, yang kemudian menjadi sumber sejarah yang begitu dipercaya, ditulis dalam Bahasa Kawi pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi). Adapun essensi dariNegarakertagama artinya negara dengan tradisi spiritual. Mpu Prapanca sedniri adalah putra seorang Darmadyaksa Kasogatan (pemimpin urusan Agama Buddha) yang diangkat oleh Sri Rajasanagara sebagai pengganti ayahnya.

Kitab Negarakertagama yang terdiri dari lima bagian ini, ditulis saat Kerajaan Majapahit masih berdiri dibawah pemerintahan Sri Rajasanagara, atau dikenal juga dengan nama Prabu Hayam Wuruk. Dan karya sastra yang berkisah tentang keagungan Prabu Hayam Wuruk dan puncak kejayaan Kerajaan Majapahit bisa menjadi sandingan dalam tata Kelola pemerintahan republik yang sudh nyaris seabad usianya sejak diproklamirkan sebagai negara modern.

Keagungan Kerajaan Majapahit digambarkan dalam Kitab Negarakertagama pada pupuh 8. Mpu Prapanca menggambarkan bahwa kompleks Kerajaan Majapahit dikelilingi tembok bata merah yang tebal dan tinggi. Di luar istana terdapat tempat tinggal untuk pendeta Siwa, Budha, dan anggota bangsawan lainnya. Gambaran ini menunjukkan betapa perhatiannya sanga raja terhadap pelaku spiritual yang ikut merawat dan menjaga keagungan bagi negara (Kerajaan). Jika dalam pupuh 13 sampai 14, Mpu Prapanca menyebut beberapa wilayah di perbatasan Indonesia saat ini, seperti di Sumatera, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Papua, Singapura dan beberapa kepulauan di Filipina, inilah agaknya yang dimaksud dari Nusantara secara geografis maupun geopolitis yang kemdudian dijadikan nama Ibu Kota Negara Indonesia yang baru di Penajam, Kalimantan Timur.

Berdasarkan Sejarah Gaib Tanah Jawa, yang ditulis CW Leadbeater, Cetakan 1 Maret 2015, menyebutkan pada 2.000 tahun sebelum masehi (SM), Pulau Jawa sudah menjadi koloni bangsa Atlantis, tapi saat Atlantis hancur dan Jawa menjadi negeri terpisah. Baru kemudian pada 1.200 tahun SM terjadi invasi secara damai masuk ke Pulau Jawa oleh Raja Vaivasvata Manu yang beragama Hindu. Hingga akhirnya, Raja Vaivasvata yang berkuasa saat itu meminta untuk mengirimkan ekspedisi ke Jawa pada tahun 78 Masehi. Syahdan, pemimpin ekspedisi seorang ahli spiritual yang Bernama Aji Saka atau Sakaji.

Legenda mengenai Aji Saka ini dalam berbagai cerita juga dianggap melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke Pulau Jawa. (Sindo News.Com, Sabtu, 09 Mei 2015). Seiring perjalanan waktu, kekuatan para pendatang Hindu ini meningkat pesat dan akhirnya menjadi dominan dalam komunitas. Dan legenda mengenai Aji Saka ini dalam berbagai cerita juga dianggap melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke Pulau Jawa. Mitos serupa ini makna hendak berisah mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban baru, tata tertib dan keteraturan hidup manusia di Jawa.

Hinga pada awal abad 13 datanglah Syekh Subakir, seorang ulama yang dikirim dari Kesultanan Turki Utsmaniyah ke tanah Jawa. Sebagai ulama besar, Syekh Subakir mampu meruat tanaha Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara. Dengan karomah yang dimilikinya, batu hitam dengan nama Rajah Aji Kalacakra dia tanam di tengah-tengah tanah Jawa yang dianggap berada di Puncak Gunung Tidar, Magelang. Pada masa inilah
ilmu kebatinan berkembang semakin berkembang pesat menjadi sejumlah cabang. Mulai dari tabib, kawaskitaan, kesaktian, kanuragan, kekebalan, pengasihan, termasuk juga tenaga dalam.

Jadi laku spiritual itu bisa ditempuh melalui berbagai model dan cara sesuai dengan cita rasa dan selera – sebagai rekreasi bathin – yang pada intinya untuk membahagiakan, karena dapat mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan. Pada gilirannya, tentu saja akan semakin menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama yang dianut oleh yang bersangkutan. Karena pada dasarnya laku spiritual itu dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa sekat agama apapun juga. Tentu saja lain ceritanya bagi mereka yang tidak percaya atau tidak memiliki agama.

Agaknya, begitulah symbol-simbol yang kemudian cukup dominan berkembang dalam budaya Jawa, seperti yang dimaknai oleh Radya Laksana yang dijadikan pemepatan makna filosofis, sosilogis maupun hostoris dari keagunang dari pemerintahan semasa kerajaan di Nusantara Berjaya Candrasasangka atau bulan yang menajdi bagain dari symbol Radya Laksana dapat dipahami sebagai sumber penerang jagat di waktu malam tanpa menimbulkan hawa panas. Cahayanya bulan yang teduh memberi rasa kenyamanan tersendiri. Demikian jiwa budaya Jawa harus didasari watak pemberi sekaligus memancarkan penerang yang memancarkan kelembutan dan kedamaian. Hakikatnya Candra dalam filosofis Jawa sebagai sarana daya bagi rasa (batin) untuk kehidupan yang menenteramkan.

Makna dari Kartika atau bintang adalah menggambarkan sifat yang senantiasa memancarkan sinar, meski hanya dalam bentuk kerlipan di sela-sela kegelapan malam, maknanya menyiratkan bahwa raja atau seseorang agar dapat memberikan penerang kepada siapapun yang sedang dalam kegelapan. Kecuali itu, masalah gelap dan terang dalam kehidupan ini silih berganti harus dipahami akan silih berganti.

Demikian pula simbolika dari bumi yang dapat dipahami sebagai mencari sumber penghidupan, dan kapas sebagai perlambang kemakmuran hingga paku pengunci kekuatan yang ada. Namun hal yang sangat menarik dan unik adanya pita merah putih – yang kemudian menjadi bagian dari symbol negara kita –melukiskan bahwa manusia itu terjadi dari perantara ibu-bapak yang melambangkan kesuburan (bumi) dan kekuasaan (langit) menyatu dalam pengeratian makro kosmos maupun mikro kosmos.

Jika upaya memindahkan IKN dari Jakarta ke Penajam, Kalimantan Timur hendak diboboti dengan nilai-nilai spiritual, agaknya ada baiknya mengacu pada tata krama dan tata laksana dari kisah babat alas yang pernah dilakukan para leluhur kita, ungkap Eko Sriyanto Galgendu dalam dialog di warung Kopi di Kawasan Sarinah Jakarta, 17 Februari 2022. Makna babat alas itu sendiri dapat dipahami secara sederhana, yaitu membabat hutan atau membuka lahan baru untuk suatu keperluan, hingga dalam konteks IKN akan dijadikan pusat pemerintahan yang sudah berjuluk Nusantara.

Konon ceritanya, Panembahan Senopati merupakan tokoh sentral berdirinya kerajaan Mataram Islam. Tidak sedikit laku spiritual yang dijalankan demi kokohnya tonggak kerajaan Islam di Tlatah (Tanah). Panembahan Senopati yang bernama asli Danang Sutawijaya merupakan penerima sah hadiah setelah memenangkan sayembara Sultan Hadiwijaya, raja dari kerajaan Pajang, karena berhasil membunuh Arya Penangsang. Sehingga alas Mentaok dapat menjadi miliknya. Alas atau hutan Mentaok inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang kelak menjadi pusatnya kerajaan Mataram

Ketika Panembahan Senopati menyambangi alas Mentoak, dia tidak langsung membabat alas atau hutan itu tanpa ba bi bu terlebih dahulu di Selo Bethek dan Selo Payung, Wonogiri. Setelah Panembahan Senopati melakukan tapa untuk beberpa waktu lamanya menjalani laku spiritual yang cukup, baru kemudian dia membabat alas tersebut untuk dijadikan temoat pemukian yang baru. Persis seperti IKN Nusantara itu kelak. Sebagai situs yang memiliki nilai sejarah kerajaan masa lalu, SElo Bethek dan Selo Payung di Kahyangan Wonori itu dianggap sebagai tempat yang patut dihormati – jika tak dapat disebut keramat — sehingga banyak orang pantas mendatangi tempat ini untuk ngalap berkah, melakukan doa permohonan agar tujuannya tercapai.

Artinya, kalua pun IKN harus pindah dari Jakarta ke Penajam, Kalimantan Timur, maka tidak ada salahnya nilai-nilai spiritual yang patut diperhatiakan untuk IKN itu tidak diabaikan. Toh, keyakinan warisan dari para leluhur kita pun saat membangun rumah tinggal saja – meski tak bisa menanam kepala kerbau di lokasi yang hendak digunakan umtuk rumah tinggal itu – ketika membangun bisa saja digantung sesaji sebagai bentuk pengharapan keberkahan, keselamatan, kenyamanan dan ketenteraman bagi seluruh keluarga yang hendak menghuni atau mengguakannya kelak, senantiasa sehat wal afiat dan selamat meliputi lahir dan batin.

Lantas, mengapa tidak untuk IKN Nusantara ?

Banten, 18 Februari 2022

oleh : Jacob Ereste

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Total Pengunjung Media

  • 2,680
  • 21,962
  • 91,500
  • 21,887,628