Menuntut Hak Atas Tanah Nya yang di gusur PT. Maruwai, dilapor hingga menjadi tersangka.

SuaraKalteng.com |Muara Teweh_ Sidang pidana umum yang di gelar di Pengadilan Negeri Muara Teweh, PT. Maruwai Coal yang berada di bawah management PT. Adaro Metcoal Compaies dengan terdakwa Roby melalui kuasa hukumnya Herman Subagio, S.H berlangsung alut dan sangat penuh dramatis dan menegangkan sidang untuk yang ke 5 kalinya.”Kamis (05/11/2020).

Dengan menghadirkan terdakwa “Roby, oleh Pengadilan Negeri Muara Teweh “Karena telah melakukan pemortalan secara ritual adat dayak (Hinting Pali) terhadap jalan milik perusahaan tambang PT. Maruwai Coal yang beroperasi di Tuhup Kecamatan Laung Tuhup Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah.

Pihak perusahaan PT. Maruwai Coal meng klaim tanah itu merupakan milik perusahaan dan jalan yang mereka pakai juga merupakan jalan yang mereka buat adalah jalan punya perusahaan “Dengan alasan mereka mempunyai ijin IPPKH, hal itulah yang mengakibatkan terdakwa bersalah dan dianggap merugikan perusahaan karena berani melakukan pemasangan Hinting Adat dan mengakui tanah tersebut adalah milik terdakwa.

Akibat ulah terdakwa Roby, Karena melakukan pemasangan Hinting Adat pihak perusahaan sangat dirugikan dan menghambat aktifitas PT. Maruwai Coal yang berlokasi di Tuhup kecamatan Laung Tuhup kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan tengah “Majelis Hakim pengadilan Negeri Muara Teweh telah menjatuh kan Vonis terdakwa bersalah, sehingga dijatuhi hukuman kurungan penjara selama tiga bulan.

ROBY

Berdasarkan keputusan Majelis Hakim pengadilan Negeri Muara Teweh menjatuhkan Vonis terdakwa bersalah dengan hukuman kurungan penjara selama tiga bulan “Terdakwa Roby melalui pengacaranya menyatakan tidak terima dengan keputusan tersebut, karena terdakwa merasa dirugikan dan merasa dirampas hak nya sebagai pemilik yang sah pada tanah yang di sengketakan terdakwa.

Hasil wawancara awak media SuaraKalte g.com dengan terdakwa Roby, tidak terima dengan kesalahan yang dituduhkan kepadanya lantaran memportal jalan di tanahnya sendiri yang dilewati oleh kenderaan perusahaan.

Lokasi Tanah Roby yang digusur PT. Maruei Coal

Dengan nada kesal Roby, menjelaskan bahwa dasar pihak perusahaan melaporkan saya sampai jadi terdakwa pihak perusahaan PT. Maruwai Coal, salah kaprah dan tidak Menghargai Adat, karena saya menuntut hak atas tanah yang mereka pakai untuk pembuatan jalan mereka, “Sedangkan permasalahan itu masih dalam tahap mediasi oleh Pemkab Murung Raya antara saya dengan pihak perusahaan karena wilayah itu masih wilayah Kab. Murung Raya sehingga kami di fasilitasi oleh Pemerintah Daerah Kab. Murung Raya dalam mencari solusi penyelesaiannya.

Entah dari mana asalnya pihak perusahaan PT. Maruwai Coal mengadukan saya kepihak berwajib dan saya dianggap merugikan perusahaan akibat pemortalan jalan yang saya lakukan di tanah saya sendiri dan aneh lagi saya langsung di tetapkan sebagai tersangka oleh Polres Murung Raya dan menjalani sidang beberapa hingga sampai saya sekarang di vonis majelis hakim bersalah dengan kurungan tiga bulan kurungan.

Saya sangat kecewa dengan putusan pengadilan Negeri Muara Teweh, karena tidak ada keadilan bagi rakyat jelata seperti saya, dan kalau bicara kerugian, saya sangat dirugikan karena sudah di tetapkan sebagai terdakwa oleh mereka ditambah lagi tanah saya yang mereka serobott “Mana keadilan hukum bagi orang yang lemah seperti saya ini.”Ungkapnya.

Pemasangan Hinting Adat yang dihadiri Damang Wilson Tobeng

Dilanjutkan ”Roby, menerangkan tentang kronologis asal muasal tanah miliknya yang disengketakan “Saya merupakan salah seorang wakil keluarga almarhum Mawardi untuk berurusan dengan PT. Maruwai Coal yang berada di bawah management PT Adaro Metcoal Compaies.

Dalam penjelasannya bahwa Almarhum Mawardi membuka lahan yang digarapnya sejak tahun 1984 di kawasan Sungai Baubau, Wilayah Desa Penda Siron, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Iapun berladang menanam sayur-mayur, yang hasilnya dijual ke karyawan perusahaan yang ada di daerah itu, yaitu PT Maruwai Timber, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Hutan Tamanan Industri (HTI). Mawardi turut membantu juga kegiatan pembibitan perusahaan HTI itu. Dan bersilangnya waktu beliau diangkat menjadi mandor.

Dalam perjalanan waktu, ladang tersebut oleh Mawardi (Almarhum) dijadikan ladang pribadi atas persetujuan Syahrudin sebagai Kepala Pembinan Hutan dan Umar Baen sebagai Kaur Administrasi Teknis Bina Hutan pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 2002 dibuatlah Surat Pernyataan No: 02/2026-SP/5/2/2002, atas nama Bapak Mawardi yang dikeluarkan oleh Kepala Desa Penda Siron (Bapak Jaman NY Ahang) serta diketahui dan dibenarkan oleh Ketua BPD Desa Penda Siron (Hakim U), Kepala Adat Desa Penda Siron (Kungkum P).

Di tahun 2002 pula dikeluarkan Surat Keterangan Riwayat Pengelolaan Tanah. Nomor : 02/2026-SP/5/2/2002 oleh Kepala Desa Penda Siron (Jaman NY Ahang), Ketua BPD Desa Penda Siron (Hakim U), Kepala Adat Desa Penda Siron (Kungkum P), Kepala Bina Hutan – TPTI (Bapak Syahrudin), dan Kaur Adm Teknis Bina Hutan.

” Maka dengan ketidak Adilan yang kami rasakan dari hasil keputusan pengadilan Negeri Muara Teweh tersebut diatas, kami akan Banding, Selain itu juga pihak kami akan menuntut Pihak Perusahaan Secara hukum Adat yang Berlaku di Bumi Tira Tangka Balang Kabupaten Murung Raya Tutup Robi”. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *