Menggali Sejarah Gunung Purei 2 dan Harapan Masyarakat Adat Barito Utara.

Menggali Sejarah Gunung Purei 2 dan Harapan Masyarakat Adat Barito Utara.

MUARA TEWEH – BPHD AMAN Barito Utara beberapa waktu telah melaksanakan Kegiatan di beberapa Komunitas Adat Anggota AMAN yang berada di beberapa Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Barito Utara pada Rabu, 10/02/2021. Kegiatan yang dilaksanakan AMAN Barut tersebut sebagai tindak Lanjut dari “Nota Kesepahaman AMAN dengan KEMENDIKBUD Nomor : 1365/H4.3/KB/2019, Nomor : ISTIMEWA/KERJASAMA-KEMENDIKBUD/PB-AMAN/X/2019. Ketua yang didampingi

MUARA TEWEH – BPHD AMAN Barito Utara beberapa waktu telah melaksanakan Kegiatan di beberapa Komunitas Adat Anggota AMAN yang berada di beberapa Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Barito Utara pada Rabu, 10/02/2021.

Kegiatan yang dilaksanakan AMAN Barut tersebut sebagai tindak Lanjut dari “Nota Kesepahaman AMAN dengan KEMENDIKBUD Nomor : 1365/H4.3/KB/2019, Nomor : ISTIMEWA/KERJASAMA-KEMENDIKBUD/PB-AMAN/X/2019.

Ketua yang didampingi Deputi Umum BPHD AMAN Barut menceritakan, “Selain menjadi salah satu Nama Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Barito Utara, ternyata dalam wilayah Kec. Gunung Purei Juga Memiliki titik tempat Bersejarah Bagi Suku Dayak Tewoyan/Taboyan dan suku Dayak lainnya di pulau Kalimantan ini yang telah meyakini secara turun temurun bahwa “Gunung Penyentau, Gunung Peyuyan dan Gunung Lumut (Memiliki Satu Kesatuan yang Tidak terpisahkan) menjadi Sejarah asal usul Suku Dayak yang disebut diatas hingga berada di Muka bumi ini”, Ucap Putes Lekas.

Hingga tidak menutup kemungkinan juga ada keterkaitan juga tentang sejarah lokal Gunung Purei yang luasannya diperkirakan mencapai 2 Km persegi. Karena dalam wilayah gunung Purei juga terdapat situs-situs Sakral dan bersejarah hingga dilindungi Masyarakat Adat Adat Setempat. Konon katanya dalam Kawasan Gunung Purei Terdapat ;

1.Talaga Purei (Air Telaga/Danum Talaga).

Talaga ini jika pada musim kemarau tidak ada air sungai Kampung sekitar, maka Masyarakat adat sekitar akan datang ke Talaga tersebut untuk meminta air.
Maka air dari telaga tersebut tersebut akan keluar, namun hanya akan keluar jika diminta dengan syarat-syarat atau mantera tertentu oleh orang yang berpengalaman spiritual saja.

  1. Tangga Pengentas
    jalan setapak yang terdiri dari material tanah dan bebatuan untuk menuju Puncak Gunung Purei. Namun struktur jalan setapak untuk menuju puncak ini terstruktur alami menyerupai sebuah tangga. Struktur jalan seperti tangga inilah sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Tangga Pengentas (Tangga Penguji).

Mitos yang terjadi yaitu jika orang yang melewatinya menuju ke puncak Gunung Purei ketika telah sampai pada puncak gunung tersebut merasa dan atau mengeluh kelelahan, sakit dan lain semacamnya maka umur atau usia orang tersebut sudah akan berakhir.

Namun sebaliknya ketika orang yang sampai puncak gunung tersebut merasa senang, riang, tidak merasa lelah atau sakit dan lain semacamnya maka orang tersebut akan baik-baik saja.

Kondisi yang dialami oleh masing-masing orang yang mencapai puncaknya tidak terikat kondisi orang tersebut muda atau tua, sehat atau sakit dan sebagainya.

  1. Batu Jama

Merupakan sebuah batu yang pada masa lalu sering digunakan oleh orang-orang untuk bersemedi atau bertapa ketika ada sesuatu yang diinginkan. Batu inipun masih bisa digunakan sebagai tempat bertapa pada saat ini.

  1. Batu Surat Tuwok

Merupakan lokasi tempat beradanya sebuah batu besar dan tinggi. Anehnya pada batu atau dinding batu yang tinggi ini setiap awal tahun akan ada gambar atau tulisan yang menyerupai ukiran yang menggambarkan atau menandakan akan adanya terjadi sesuatu di masyarakat yang berada di wilayah Kecamatan Gunung Purei, misalnya gambaran jika hasil panen pada tahun tersebut berhasil atau gagal, gambaran jika ada kecalakaan yang mengakibatkan meninggal dunia seperti tabrakan, jatuh dari pohon madu dan lain sebagainya. Sebagai contoh pada awal tahun 2015 yang lalu ada warga yang melihat pada batu tersebut terdapat gambar 6 batang pohon Manggris dan orang mengambil madu yang jatuh dari masing-masing pohon Manggris tersebut, dan selama tahun 2015 sampai dengan saat ini telah ada 6 orang yang meninggal dunia karena terjatuh dari pohon manggris saat mengambil madu untuk wilayah Kecamatan Gunung Purei ini.

Gambar dan atau tulisan yang menyerupai ukiran tersebut terlihat jelas pada batu atau dinding batu yang tinggi tersebut, yang jika dipikir secara logika tidak mungkin manusia dapat membuatnya.

Gambar dan atau tulisan pada Batu Surat Tuwok ini akan hilang dan terhapus dengan sendirinya ketika tahun tersebut telah berakhir dan berganti dengan gambaran yang baru pada awal tahun berikutnya. Apa yang tergambar pada batu tersebut dan apa yang terjadi kedepannya masih dan terus terjadi sampai dengan saat ini.

  1. Kuburan Anjang

Lokasi tempat beradanya kuburan orang tua dulu (leluhur) dari keturunan Purei yaitu dari Sumping Narui.

Anjang merupakan seorang yang sakti dan berjasa dalam memperjuang dan mempertahankan Purei pada saat perang dahulu.

Kuburan ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang dari keturunannya, sementara bagi orang yang bukan keturunannya tidak dapat melihatnya.

  1. Terinsing Semulu (Ulin Petono)

Lokasi tempat beradanya pohon Ulin Petono yang dikeramatkan warga setempat.

Petono merupakan seorang manusia (orang tua) dari keturunan Terinsing Semulu. Petono dulunya mempunyai seorang cucu.

Pada masa itu cucunya ini ditinggal dirumah dengan kakeknya yaitu Petono karena orang tuanya bekerja. Entah kenapa sebabnya, cucunya ini meninggal dunia karena terpukul oleh Petono.
Lalu Petono berpikir karena cucunya meninggal dunia olehnya maka diapun pasti akan dibunuh oleh kedua orang tua cucunya.

Petono teringat bahwa ada sebatang pohon Ulin didepan rumah sebagai tempat bersembunyi.

Maka dia pun keluar dari rumah dan melihat bahwa batang pohon Ulin itu terbuka da nada seorang manusia yang keluar dari dalam batang pohon Ulin tersebut.

Manusia tersebut kemudian mengatakan kepada Petono untuk masuk saja kedalam pohon Ulin ini untuk bersembunyi.

Tanpa pikir panjang Petono pun masuk kedalam batang pohon Ulin yang terbuka tersebut dan pada saat itu juga batang pohon Ulin tersebut tertutup kembali.

Sore hari ketika orang tua cucunya pulang kerumah, mereka mendapati anak mereka telah meninggal dunia sedangkan ayahnya yaitu Petono tidak berada dirumah.

Ketika hari telah mulai gelap, barulah terdengar suara dari Petono yang mengatakan saya berada didalam pohon Ulin ini untuk bersembunyi karena takut kalian bunuh.

Namun sejak saat itu batang pohon ulin tersebut tidak bisa terbuka lagi dan Petono tetap berada didalamnya.

Saat ini pohon Ulin Petono tersebut telah roboh dan ditengah-tengah batang pohonnya hidup dan tumbuh anak pohon Ulin tersebut. Ulin Petono ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang dari keturunan Petono dan orang-orang yang berniat baik saja, sedangkan bagi orang-orang yang berniat buruk tidak bisa melihatnya. Daerah ini tetap dilindungi sampai dengan saat ini.

Maka Kami berharap, dengan terbentuk nya Panitia MHA kebupaten Barito Utara Nomor : 188.45/331/2019 tertanggal 26 Agustus 2019 yang Mana kami juga menjadi salah satu anggota Panitia didalamnya agar Komunitas Adat yang mendiami kaki bukit gunung tersebut masuk dalam agenda prioritas panitia MHA Barut untuk penetapan nantinya. Terplepas dari hal lainnya kami juga berharap untuk Tahun ini seluruh anggota panitia MHA Barito Utara Solid dan bergerak bersama dalam Berbagai macam proses . Salah Satunya juga mempercepat proses pembahasan Draf Hukum pengakuan dan perlindungan yang sudah ada dan proses nya sampai Kabag Hukum Pemda Tahun lalu, agar Tahun ini dapat Diketuk,Harap Putes.

Karena regulasi hukum tersebut adalah impian Masyarakat Adat Barito Utara Selama ini. Tutupnya. (GR/Tim).

Narasumber Cerita Sejarah Gunung Purei : beberapaTokoh Adat dan Beberapa Masyarakat Adat Gunung Purei.

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Total Pengunjung Media

  • 370
  • 12,774
  • 62,398
  • 21,638,243