KETIKA SEORANG SUAMI YANG TAK LAGI DIHARGAI SEORANG ISTRI

KETIKA SEORANG SUAMI YANG TAK LAGI DIHARGAI SEORANG ISTRI

Kehidupan rumah tangga yang tidak lagi dilandasi saling percaya akan membebani seorang teman, hingga tak sanggup memikulnya sendiri maka akhirnya iapun bercerita. “Aku tau aku pernah membuat kesalahan mah, namun jangan itu yang selalu kau jadikan alasan pertengkaran kita”. “Dan Kurang apa aku sebagai suami mah?. Aku mengurus kewajibanku. Aku bekerja menafkahimu. Walaupun aku sadar

Kehidupan rumah tangga yang tidak lagi dilandasi saling percaya akan membebani seorang teman, hingga tak sanggup memikulnya sendiri maka akhirnya iapun bercerita.

“Aku tau aku pernah membuat kesalahan mah, namun jangan itu yang selalu kau jadikan alasan pertengkaran kita”.

“Dan Kurang apa aku sebagai suami mah?. Aku mengurus kewajibanku. Aku bekerja menafkahimu. Walaupun aku sadar aku belum mampu memberimu lebih. Seperti orang lain yang memberi pada istri mereka. Tapi aku berjuang sekuat tenagaku ma. Di rumah aku juga membantu, meringankanmu melakukan pekerjaan rumah. Aku mencuci pakaian, nyapu, Aku bahkan memasak dan cuci piring.

Mana ada suami yang mau melakukan tugas rumah seperti ini? Lalu kenapa aku masih salah di matamu? Masih saja dituduh dengan hal yang sudah2 dan tidak masuk akal. Merasa terluka, kecewa, sakit hati, harus begini harus begitu,tidak boleh ini tidak boleh itu, jangan berteman ini, jangan berteman itu,tapi kamu malah sebaliknya. Maumu aku seperti apa ma? ” begitulah cerita sahabatku .

Sebagai pasangan sepertinya ia telah berusahan kesalahan yang terbaik. Lalu dimanakah salahnya?

Sebuah masalah rumah tangga yang cukup rumit. Sebagai seorang perempuan yang saya mencoba memahami cara istrinya. Jika saya berada di posisi itu apakah saya akan melakukan hal yang sama? Rasanya tidak karena memang seharusnya tidak.

Masalah cobaan dan ekonomi memang menjadi faktor utama dalam pertengkaran dalam rumah tangga.

Tapi kalau kita mau bijak dan menerima semuanya dengan ikhlas mungkin akan berbeda keadaannya. Bukankah banyak orang di dunia ini juga pernah melakukan kesalahan dan berada dalam kondisi yang sulit? Bukan hanya kita. Bagaiamana mereka bisa bertahan?

Tidak gampang memang keharmonisan dalam keluarga. Apalagi dalam keadaan kita yang tidak bisa menerima permintaan maaf dan sedang sulit finansial.

Memaafkan dan rasa saling percaya, saling mendukung satu sama lain sangat dibutuhkan. Sebagai istri harusnya kita bisa memaafkan dan menghargai setiap usaha kerja keras suami. Bukan malah menuntutnya dan menghukumnya dengan terus menyudutkannya.

Harusnya istri menjadi penyejuk bagi pasangan dalam suasana pikirannya yang panas setelah berfikir beratnya tanggung jawab.

Seharusnya kita menjadi surga yang menenangkan saat siang hari ia menjalankan aktivitasnya.

Memberinya kepercayaan penuh. Bukan memata-matai geraknya. Memberikan ia kebebasan bukan malah mengekangnya dalam penjara cinta yang mengungkungnya bahkan juga diri kita.

Bukankah cinta itu adalah kebebasan. Cinta adalah pengorbanan. Mungkin kita perlu bertanya lagi, sudahkah kita mau memberikan kebebasan pada apa yang kita cintai? Sudahkah kita berkorban untuk sesuatu yang kita cinta?

Sebaiknya kita revisi lagi mengapa kita mencintainya? Bukankah kita mencintai pasangan kita karena Tuhan menciptakannya sebagai jodoh, teman dan pendamping dalam hidup kita. Lalu mengapa kita mesti mencinta dengan alasan. Mengapa cinta hilang saat dia tidak memiliki kekayaan? Mengapa cinta kita terkikis oleh materi dan kelimpahan harta? Bukan itu yang membahagiakan Tapi cinta karena keikhlasan yang memberi kebahagiaan.

Sebagai perempuan, kita harusnya beruntung mendapatkan pria yang sangat menyayangi kita. Yang mau mengerti kita apa adanya. Pria yang tidak pernah menuntut banyak pada kita.

Seperti halnya kita, pasangan juga ingin didengar, ia hanya ingin melakukan sebagai seorang laki-laki. Ia butuh diberi kepercayaan. Ia hanya memerlukan senyum ketulusan yang memberikan semangat. Ia pantas untuk dihormati. Ia pantas mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya sebagai suami.

Duhai, para wanita / istri pahamilah kondisi suami kita. Berikan ia kesempatan untuk membuktikan bahwa dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Dia tidak akan membawa kita ke jurang kehinaan. Dia tidak akan membiarkan kita mati kelaparan. Karena dia sangat mencintai kita istri dan anak-anaknya.

Jika cinta dan kasih sayang itu tak ada lagi padanya. Dari dulu, dia pasti telah pergi dan meninggalkan kita selamanya. Jangan pernah biarkan hal itu terjadi. Sebelum penyesalan menghinggapi berpikirlah besar dengan hati dan jiwa yang jiwa yang juga besar.

Alangkah lebih baik jika kita mau bercermin, menyatakan terus menangisi keadaan. Temukan kekuatan dalam diri, keluarkan segala kemampuan dan potensi diri. Sudah tak zamannya lagi kita berpikir picik, sudah kuno jika setiap hari menyesali keadaan diri.

Banggalah menjadi ibu rumah tangga, sebelum itu janganlah membuat kita kehilangan harga diri. Masih banyak yang bisa kita lakukan harus meratapi kesusahan. Yang berujung pada pertengkaran suami istri.

Cat untuk sahabat. Semoga selalu kuat dan sabar, Tuhan akan membukakan jalan yang terbaik. Doaku untukmu selalu.

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Total Pengunjung Media

  • 16,348
  • 163,475
  • 632,894
  • 18,897,637