Cerita Lokal Gunung Purei

suarakalteng@gmail.com – Rumpun Purei berasal dari sebuah Gunung yang berada di wilayah Adat Baok, Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Pada masa lalu di Gunung tersebut hiduplah seorang laki-laki yang bernama Purei bersama isteri dan anak perempuannya.

Pada saat Purei sedang mencari nafkah kearah laut melewati sungai Teweh menggunakan rakit, Purei melihat ada seekor buaya sedang mengambil seorang perempuan, dikedua tangan perempuan tersebut terdapat masing-masing 2 buah gelang emas.

Pada saat itu juga Purei mengatakan kepada buaya tersebut bahwa cukup perempuan itu saja yang kamu dapat, tapi anak perempuan ku yang ada di gunung tidak kamu dapat.

Ilustrasi foto

Ketika Purei berangkat pulang kembali setelah mencari nafkah, Purei kembali melihat seekor buaya sedang mengambil seorang anak perempuan, dan dikedua belah tangan anak perempuan tersebut juga terdapat masing-masing 2 buah gelang emas. Setelah Purei memperhatikan lebih jelas kepada anak perempuan tersebut, Purei melihat bahwa anak perempuan tersebut seperti anaknya yang ada di gunung.

Namun dalam hati Purei merasa tidak yakin jika itu adalah anaknya. Sesampainya Purei di rumahnya (gunung), Purei lalu bertanya kepada isterinya “dimana anak kita??”. Isterinya pun menjawab “coba kamu lihat didepan rumah kita”.

Setelah Purei melihat kedepan rumah, terdapat sebuah lubang besar ditanah. Isterinya pun bercerita bahwa ketika dia dan anak perempuannya sedang menumbuk padi di depan rumah, dia dan anak perempuannya melihat ada sebatang bambu di depan rumah, kemudian anaknya mengambil Pisau/Parang dan menebas bambu tersebut, seketika itu juga bambu dan anak perempuannya langsung hilang/raib dan muncul lubang besar ditanah.

foto Ilustrasi

Setelah mendengar cerita tersebut Purei lalu berpikir bahwa anak perempuannyalah yang diambil oleh buaya saat dilihatnya di sungai tadi.

Sejak saat itu Purei dan isterinya merasa sedih atas hilangnya anak perempuan mereka yang diambil oleh buaya. Hingga akhirnya Purei memutuskan untuk meninggalkan gunung dan pindah ke daerah “Kenempa” (tempat Sakral Bagi Dayak Taboyan/Tewoyan).

Pada saat mereka berdiam menetap di Kenempa, Purei dan isterinya memperoleh 2 orang anak laki-laki.

Setelah cukup lama menetap di Kenempa, Purei beserta sanak keluarganya pindah ke daerah Terinsing Terore.

Dari sejarah diatas akhirnya sampai saat ini masyarakat yang berdiam disekitar gunung tersebut menamakan gunung tersebut dengan nama Gunung Purei. Bersambung. (Rijani).

Sumber Data : BPHD AMAN Barito Utara.